Archive for umum

Tuna Ganda

PENGERTIAN TUNA GANDA

Sering kali kita mendengar istilah tuna ganda. tuna ganda sendiri berarti : Perpaduan dari beberapa ke-tunaan. Masing-masing ketunaan mempunyai sebab dan akibat bagi kemampuan anak untuk belajar dan hidup secara normal.

MACAM-MACAM TUNA GANDA

  • Tunanetra-tunawicara
  • Tunanetra-tunarungu
  • Tunanetra-tunadaksa
  • Tunanetra-tunagrahita
  • Tunanetra-tunalaras
  • Tunanetra-kesulitan belajar khusus

Ciri Khas Tunaganda

  • Memiliki ketunaan lebih dari satu jenis. Misal: tuna netra dan tunagrahita, tuna netra dan tunarungu-wicara, tunanetra dan tuna daksa dan tunagrahita dll.
  • Ketidak mampuan anak akan semakin parah atau semakin banyak bila tidak cepat mandapatkan batuan. Hal ini disebabkan kegandaannya yang tidak cepat mendapatkan bantuan.
  • Sulit untuk mengadakan evaluasi karena keragaman kegandannya.
  • Membutuhkan instruksi atau pemberitahuan yang sangat terperinci
  • Tidak menyamaratakan pendidikan tuna ganda yang satu dengan yang lain walau mempunyai kegandaan yang sama.

TUNANETRA DAN TUNARUNGU WICARA

  • Anak yang kehilangan daya lihat dan daya dengarnya, membutuhkan metode komunikasi khusus
  • Keterlambatan dalam perkembangan bicaranya dan berbahasanya, butuh bantuan seorang ahli speech terapi. KESULITAN DALAM MENDIDIK TUNAGANDA
  • Anak tunaganda sulit memahami apa yang dikatakan oleh pendidik.
  • Tenaga pendidik membutuhkan banyak alat bantu. Misalanya: gambar dan simbol-sombol.
  • Pendidik mengalami kesulitan dalam pengawasan anak tunaganda karena sifatnya yang maunya sendiri.
  • karena gaya belajarnya secara kontekstual, pendidik diharuskan memberi pengajaran secara mendetail. Misalnya: menunjukkan apa itu jeruk, mulai dari bentuk, warna, pohon, daun, dan batang buah hingga cara bagaimana pemanfaatannya.

Comments (3) »

Disgrafia Banyak terjadi pada Anak Laki – laki

Gangguan baca-tulis atau yang juga dikenal dengan disgrafia mencakup masalah menulis, mengeja dan menyusun kerangka berpikir saat pelajaran mengarang. Hal ini terjadi manakala keterampilan menulis anak jauh di bawah standar umur dan skor IQ-nya.

Sebuah penelitian di Amerika melaporkan, kasus kesulitan belajar yang terkait ketidakmampuan menulis (disgrafia) lebih banyak ditemui pada anak laki-laki. Berkebalikan dengan kesulitan membaca seperti disleksia yang telah banyak diteliti, penelitian tentang kesulitan menulis masih sangat minim, sehingga angka kasusnya juga tidak jelas.

Pada penelitian terbaru yang melibatkan lebih dari 5700 anak, diketahui bahwa sekitar 7-15 persen dari jumlah tersebut mengalami gangguan baca-tulis semasa duduk di bangku sekolah. Persentase ini bervariasi, tergantung kriteria yang dipakai untuk mendiagnosis masalah ini.

Anak laki-laki kecenderungannya 2-3 kali lebih berisiko terdiagnosis ketidakmampuan membaca dibanding anak wanita, apa pun jenis kriteria diagnosis yang dipakai.
Hasilnya mengindikasikan bahwa kasus gangguan menulis sama lazimnya dengan kesulitan membaca.

Jika umumnya anak-anak dengan gangguan menulis juga mengalami kesulitan membaca, maka sekitar seperempatnya hanya mengalami gangguan menulis.

Fakta bahwa kasus pada anak pria lebih sering terkena berdasarkan penelitian yang lampau dikarenakan anak wanita secara umum tampil lebih baik dalam tulisan tangan dan ekspresi tertulis. Penelitian lanjutan diperlukan untuk menggali lebih jauh perbedaan kasus terkait gender tersebut, termasuk kemungkinan pengaruh genetik dan lingkungan.

Anak-anak dapat mengalami kesulitan baca-tulis atau beragam gangguan belajar lainnya di sekolah, dan jika memang terdiagnosis dengan gangguan tersebut.

Sumber : okezone.com

Leave a comment »

Prestasi Seorang Tunanetra

KEBERHASILAN adalah hak setiap orang yang mau berusaha melakukan segala sesuatu secara sungguh-sungguh. Hal itu pula yang telah dibuktikan oleh Chieko Asakawa (50 tahun).

Wanita penyandang tunanetra ini berhasil membuktikan bahwa keterbatasan fisik tidak menjadi halangan untuk mencapai prestasi.
Asakawa telah menjadi penyandang tunanetra sejak usia 14 tahun karena sebuah kecelakaan. Tapi, kondisi ini tidak membuatnya putus asa.
“Saya pun bertekad untuk belajar sastra Inggris di universitas dengan bantuan braille. Saya bahkan berhasil meraih gelar doktor (PhD) dari Fakultas Teknik University of Tokyo,” katanya.
Sekarang ia bergabung di perusahaan komputer ternama di Amerika Serikat, yaitu International Business Machines Corp (IBM), sejak 1985. Di sana, ia bekerja dalam bidang pengembangan sistem penerjemahan braille.
“Saya bersyukur karena kerja keras saya dinilai telah dapat meningkatkan kesempatan memakai komputer bagi penyandang cacat, orang tua, dan masyarakat umum. Karenanya, pada bulan Juni 2009, saya meraih penghargaan atas pekerjaan tersebut,” ungkapnya.
Penghargan itu adalah IBM Award, yang merupakan penghargaan tertinggi di IBM. Selain menjadi pekerja tunanetra pertama, juga merupakan orang Jepang kelima dan wanita Jepang pertama yang menyabet penghargaan ini.
Asakawa merasa bahagia dan tidak menyangka bahwa pemikiran dan pekerjaannya dianggap telah memberikan sumbangan di bidang teknologi bagi IBM.
Ia juga dianggap telah membantu membangun kesadaran sekaligus memberikan inspirasi kepada banyak pihak.
Harapannya, agar dapat terus bekerja keras sehingga dapat menghasilkan teknologi yang mudah diterima oleh masyarakat, termasuk penyandang cacat.

Sumber    : Tribun Timur

Leave a comment »

Anak Luar Biasa Butuh Perhatian Lebih

Semua anak, baik normal maupun tuna (berkelainan) memiliki kesempatan sama didalam hal pendidikan dan pengajaran. Namun harus diakui bahwa anak yang mengalami ketunaan memiliki berbagai hambatan dan kelainan dalam kondisi fisik dan psikisnya sehingga mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan perilaku dan kehidupannya.
Anak luar biasa diasumsikan berkaitan dengan kondisi jasmani maupun rohani yang berkelainan dibanding anak normal. Oleh karena itu anak digolongkan luar biasa
apabila anak itu tidak masuk pada kategori sebagai anak normal baik fisik, mental
maupun intelegensianya.
Permasalahan mendasar bagi anak-anak luar biasa, biasanya ditunjukkan dengan perilakunya ketika melakukan aktivitas bersama dengan anak-anak normal pada umumnya. Contoh, ketika bergaul mereka menghadapi sejumlah kesulitan baik dalam kegiatan fisik, psikologis maupun sosial.
Ditinjau dari aspek psikologis anak tuna daksa memang cenderung merasa apatis, malu, rendah diri, sensitif dan kadang-kadang pula muncul sikap egois terhadap lingkungannya. Keadaan seperti ini mempengaruhi kemampuan dalam hal sosialisasi dan interaksi sosial terhadap lingkungan sekitarnya atau dalam pergaulan sehari-harinya.
Keluarbiasaan jenis apapun yang disandang anak tuna merupakan pengalaman personal. Ini berarti siapapun yang berada diluar dirinya tidak akan merasakan tanpa ia mengerti, memahami dan mengalaminya. Anak atau siswa tuna daksa yang satu dengan yang lain belum tentu sama apa yang dipikirkannya. Jadi meskipun sama-sama mengalami ketunaan, belum tentu apa yang dirasakan seseorang sama dengan yang dirasakan anak tuna-tuna lainnya.
Dengan adanya keluarbiasaan dalam diri seseorang sering eksistensinya sebagai
makhluk sosial dapat saja terganggu. Sebagai akibat dari ketunaan dan pengalaman
pribadi anak itu maka efek psikologis yang ditimbulkannya juga tergantung dari
seberapa berat ketunaan yang disandangnya itu, kapan saat terjadinya kecacatan,
seberapa besar kualitas kecacatan dan karakteristik susunan kejiwaan anak atau siswa
tersebut sangat mempengaruhi kondisi psikologisnya
Dari beberapa kajian yang telah dilakukan terhadap isolasi sosial anak, menunjukkan anak sering menjadi kaku, mudah marah dan bila dihubungkan dengan perilakunya menunjukkan seakan bukan pemaaf dan tidak mempunyai rasa sensitif terhadap orang lain. Hal lain menunjukkan bahwa anak-anak seperti itu mempunyai kesulitan mendasar dalam hal sosialisasi dan bahkan komunikasi.
Sifat-sifat seperti itu merupakan rintangan utama dalam melakukan kepuasan hubungan interpersonal bagi anak-anak luar biasa. Ketersendirian sebagai akibat rasa rendah diri merupakan tantangan dalam melakukan sosialisasi dan penerimaan diri akan
kelainan yang dimilikinya.

Butuh bimbingan konseling
Anak-anak tuna daksa sebenarnya tidak selamanya memiliki keterbelakangan mental. Ada yang mempunyai kemampuan daya pikir lebih tinggi dibandingkan anak normal. Bahkan tidak jarang kelainan yang dialami seorang anak tuna daksa tidak mempengaruhi perkembangan jiwa dan pertumbuhan fisik serta kepribadiannya. Demikian pula ada diantara anak tuna daksa hanya mengalami sedikit hambatan sehingga mereka dapat mengikuti pendidikan sebagaimana anak normal lainnya.
Secara umum perbedaan antara anak tuna daksa dengan anak normal terutama terdapat dalam tingkat kemampuannya. Namun hal ini juga sangat tergantung dari berat
ringannya ketunaan yang mereka sandang.
Dengan adanya ketunaan dalam diri seseorang seringkali eksistensinya sebagai manusia terganggu. Sebagai akibat dari ketunaan dan pengalaman pribadi anak maka
dibutuhkan keterampilam sesuai dengan kemampuan dirinya. Oleh karena itu orang-orang yang terlibat didalam pendidikan bagi anak luar biasa harus mempunyai keterampilan dalam mengungkapkan kebutuhan-kebutuhan personal psikologis yang dibutuhkan anak luar biasa. Layanan bimbingan dan konseling sangat diperlukan bagi anak luar biasa.
Bimbingan dan konseling adalah suatu proses pemberian bantuan kepada seseorang dan atau sekelompok orang yang bertujuan agar masing-masing individu mampu mengembangkan dirinya secara optimal, sehingga dapat mandiri dan atau mengambil keputusan secara bertanggungjawab. Jadi yang ingin dicapai dengan bimbingan ialah tingkat perkembangan yang optimal bagi setiap individu sesuai dengan kemampuannya.
Hal tersebut merupakan tujuan utama pelayanan bimbingan di sekolah, dan tujuan tersebut terutama tertuju bagi murid-murid sebagai individu yang diberi bantuan. Akan tetapi sebenarnya tujuan bimbingan di sekolah tidak terbatas bagi murid saja, melainkan juga bagi sekolah secara keseluruhan dan bagi masyarakat.
Dengan demikian hakekat tujuan bimbingan dan konseling yaitu suatu upaya bantuan kepada individu agar dapat menerima dan menemukakan dirinya sendiri secara efektif dan produktif, sehingga dapat mengerahkan kemampuan dirinya dengan tepat, mengambil keputusan dengan benar dan dapat menyesuaikan dengan lingkungannya.
Oleh karena itu sudah saatnya dalam rangka menyongsong berlakunya Undang Undang Nomor : 14 Tahun 2006, tentang Guru dan Dosen maka Pemerintah perlu mengambil langkah-langkah kongkrit dengan mengangkat atau menetapkan profesi dan sertifikasi guru layanan bimbingan dan konseling pada sekolah-sekolah luar biasa, sehingga perhatian terhadap anak luar biasa menjadi tidak terabaikan dan sekaligus menepis issue diskriminasi terhadap anak didik.

Sumber   : http://www.gemari.or.id

Leave a comment »

Kebutaan Bukan Menjadi Hambatan

Tuna Netra (buta) adalah seseorang yang memiliki hambatan dalam penglihatan. Tuna netra dapat digolongkan ke dalam 2 golongan yaitu : buta total (blind) dan low vision.

Bagi sebagian individu yang mengalami tuna netra, kebutaan bukan hambatannya untuk mencapai prestasi. Seperti pada seorang siswa di salah satu SLB di Jakarta bernama Bayu. Ia termasuk penyandang tuna netra tetapi dibalik keterbatasan fisiknya ia mempunyai kelebihan yaitu melukis. metode pengajaran di sekolahnya menggunakan tulisan Braille, gambar timbul, benda model. Ia seringkali menjuarai beberapa lomba melukis tingkat DKI. Selain itu, ia sudah mengumpulkan banyak sekali lukisannya, ada beberapa lukisan yang sudah terjual.

Bayupun masih ingin terus berkarya, ia ingin memanfaatkan masa mudanya dengan sesuatu yang berharga dan dapat menyenangkan kedua orangtuanya.

Ia tidak menyesali keadaan fisiknya seperti ini, ia bersyukur karena tuhan memberikan kelebihan dan anugrah kepadanya. “ saya sangat bersyukur walaupun keadaan saya seperti ini, tuhan masih sayang sama saya “, ujarnya.

Leave a comment »

Penempatan Anak Tunarungu di Kelas Inklusi

Sebelum melakukan penempatan anak berkebutuhan khusus di dalam kelas inklusi, sebaiknya dilakukan identifikasi dan asesmen terlebih dahulu. Identifikasi merupakan tahapan awal yang masih bersifat global/kasar, identifikasi diartikan sebagai proses penyaringan anak berkebutuhan khusus yang mengalami penyimpangan, kelainan, hambatan baik secara fisik, intelektual, sosial, emosional dan tingkah laku dalam rangka pemberian layanan pendidikan yang sesuai.

Hasil dari identifikasi adalah ditemukannya anak-anak berkebutuhan khusus yang memerlukan layanan pendidikan khusus melalui program pendidikan inklusi. Selanjutnya jika sudah diidentifikasi lalu ditemukan anak tunarungu dengan derajat ketulian misalnya 90 dB, barulah dilanjutkan dengan asesmen.

Dengan asesmen akan diketahui kelemahan/kesulitan anak dalam hal tertentu, serta diketahui pula kekuatan/potensi/kemampuan yang masih dapat dikembangkan juga kebutuhan layanan khusus yang diperlukan untuk mengatasi hambatan yang dimiliki anak. Setelah dilakukan asesmen dan diketahui kelebihan serta kelemahan anak, barulah guru dapat menempatkan anak tunarungu berdasarkan kemampuan bahasa yang dimilikinya, selain itu dengan hasil asesmen guru dapat membuat program pembelajaran yang sesuai dengan potensi yang dimiliki anak. Dengan program tersebut diharapkan pembelajaran yang dilakukan anak tunarungu dapat bermakna.

Setelah dilakukan asesmen barulah dilakukan penempatan dengan program pembelajaran individual (PPI).Penempatan anak tunarungu di sekolah inklusi di Indonesia pada dasarnya lebih sama dengan model mainstreaming seperti pendapat Vaughn,Bos & Schumn (2000),yaitu:

  1. Kelas regular (inklusi penuh)

Anak tunarungu belajar bersama dengan anak mendengar sepanjang hari di kelas regular dengan menggunakan kkurikulum yang sama.

  1. Kelas regular dengan cluster

Anak tunarungu belajar bersama dengan anak mendengar di kelas regular dengan kelompok khusus.

  1. Kelas regular dengan pull out

Anak tunarungu belajar bersama anak mendengar di kelas regular namun dalam waktu-waktu tertentu anak tunarungu ditarik dari kelas regular ke ruang sumber untuk belajar dengan guru pembimbing khusus.

  1. Kelas regular dengan cluster dan pull out

Anak tunarungu belajar bersama dengan anak mendengar di kelas regular dalam kelompok khusus, dan dalam waktu-waktu tertentu ditarik dari kelas regular untuk belajar dengan guru pembimbing khusus.

  1. Kelas khusus dengan berbagai pengintegrasian

Anak tunarungu di dalam kelas khusus pada sekolah regular, namun dalam bidang-bidang tertentu dapat belajar bersama dengan anak mendengar di kelas regular.

  1. Kelas khusus penuh

Anak tunarungu belajar di dalam kelas khusus pada sekolah regular.

Anak tunarungu di kelas inklusi hendaknya duduk dalam posisi tidak terhalang pandangannya untuk melihat mulut guru saat menjelaskan, sehingga prinsip keterarahwajahan dan keterarahsuaraan dapat dilakukan. Guru dalam memberi penjelasan tidak harus bersuara keras, yang paling penting adalah ujaran yang keluar dari mulut guru dapat jelas dan mudah ditangkap oleh anak tunarungu.

sumber  : bintangbangsaku.com

Leave a comment »

Anak Tuna Ganda

Di Indonesia, pravelensi penyandang tuna ganda hampir mencapai 100.000 orang. Tuna ganda adalah anak yang mengalami kombinasi kelainan baik dua jenis kelainan atau lebih, sehingga anak tersebut tidak bisa diatasi dengan suatu program pendidikan khusus untuk satu kelainan saja.

Seperti contoh berikut, sebut saja Budi, ia mengalami tuna netra (buta) sejak kecil. Lalu saat ia masuk masa sekolah ia juga mengalami keterlambatan dalam menerima pelajaran. Ia lambat dalam berfikir dan juga susah untuk melakukan kontak sosial dengan orang sekitar. Sudah berkali – kali diajarkan oleh gurunya ia tetap sulit menerima pelajarannya.

Setelah di tes IQnya, berkisar 39 %. Contoh kasus tersebut adalah penyandang tuna ganda yaitu gabungan tuna grahita dan tuna netra.

MACAM-MACAM TUNA GANDA

  • Tunanetra-tunawicara
  • Tunanetra-tunarungu
  • Tunanetra-tunadaksa
  • Tunanetra-tunagrahita
  • Tunanetra-tunalaras
  • Tunanetra-kesulitan belajar khusus

Leave a comment »