Archive for psikologi

ADHD Pada Dewasa

ADHD ( Attention Deficit Hiperactivity Disorder ) dapat terjadi pada dewasa, gangguan ini umumnya ditemukan pada anak – anak.

Gejala ADHD pada orang dewasa adalah :

1. Sering gelisah

2. Tidak sabar

3. Fokus hanya bisa menyelesaikan satu masalah

4. Impulsif ( tidak terkendali )

5. Kesulitan dalam hal terorganisir

ADHD adalah gangguan fungsi eksekutif dari otak, yaitu ketidakmampuan untuk merencanakan, memulai sesuatu pada waktu yang tepat, menghilangkan satu langkah dan langsung mengakhirinya pada waktu yang tepat. Hal ini akibat tidak adanya keseimbangan neurotransmitter di otak.

Orang dewasa dengan ADHD kemungkinan mengalami penyalahgunaan obat atau zat, kecelakaan, kesulitan untuk bekerja secara normal dan juga sulit dalam hal mempertahankan hubungan. Tapi mereka biasanya sangat cerdas, energik, karismatik, kreatif dan mampu fokus pada satu perhatian yang menarik baginya.

Tidak ada tes darah atau scan otak yang dapat mendiagnosis ADHD. Orang dicurigai memiliki ADHD setelah melakukan evaluasi secara menyeluruh. Setelah didiagnosis ADHD, kebanyakan ahli merekomendasikan perawatan melalui obat dan terapi perilaku.

Namun penggunaan obat-obatan harus hati-hati,  jika dosisnya terlalu tinggi atau diberikan obat yang tidak tepat bisa membuat ia kehilangan sisi kreatifnya. Sementara obat-obatan tersebut dapat membantu ADHD menjadi lebih fokus, sedangkan terapi perilaku dapat membantunya melakukan sesuatu dengan tepat.

sumber  : detikHealth

Leave a comment »

Mengenal Syndrom Rett

Sindrom Rett terjadi akibat kelainan genetik yang mempengaruhi cara otak berkembang. Sindrom ini terjadi secara eksklusif pada anak perempuan. Sindrom Rett mengakibatkan gejala mirip dengan autisme. Banyak bayi dengan sindrom Rett berkembang secara normal pada awalnya, tetapi perkembangannya sering terhambat pada saat mencapai usia 18 bulan. Seiring waktu, anak-anak dengan sindrom Rett fungsi motorik untuk menggunakan tangan, berbicara, berjalan, mengunyah dan bahkan bernapas mereka tidak normal.

Gejala
Gejala Sindrom Rett bervariasi dari anak ke anak. Beberapa bayi menunjukkan tanda-tanda dari gangguan sejak lahir tanpa periode perkembangan normal. Penderita lain memiliki gejala lebih ringan dan dapat mempertahankan kemampuan untuk berbicara. Beberapa anak bahkan mengalami kejang-kejang.

Sindrom Rett umumnya dibagi menjadi empat tahap:
* Tahap I.
Tanda dan gejala pada tahap awal biasanya diabaikan selama 6 bulan sampai 18 bulan. Sindrom Rett pada Bayi menunjukkan tanda bayi kurang kontak mata dan mulai kehilangan minat pada mainan. Bayi juga mengalami penundaan dalam duduk atau merangkak.
* Tahap II
Tahap II mulai antara usia 1 sampai 4 tahun, anak-anak dengan sindrom Rett secara bertahap kehilangan kemampuan untuk berbicara dan menggunakan tangan mereka secara sengaja. Gerakan lain seperti gerakan tangan–meremas-remas, mencuci, bertepuk tangan atau mengetuk juga sulit dilakukan penderita. Beberapa anak dengan sindrom Rett menahan napas atau hiperventilasi dan berteriak atau menangis tanpa sebab.

* Tahap III
Tahap ketiga adalah puncak gejala yang biasanya dimulai antara usia 2 sampai 10 tahun dan dapat berlangsung selama bertahun-tahun. Walaupun masalah dengan mobilitas berlanjut, perilaku dapat diperbaiki. Anak-anak di tahap ini sering kurang menangis, tidak mudah marah, menunjukkan peningkatan kewaspadaan, rentang perhatian dan keterampilan komunikasi nonverbal. Banyak orang dengan sindrom Rett hidup dengan gejala di tahap III sampai sisa hidup mereka.

* Tahap IV
Tahap terakhir ditandai dengan berkurangnya mobilitas, kelemahan otot dan scoliosis (kelengkungan yang abnormal dari tulang belakang). Tanda lain yakni kurangnya pengertian, komunikasi dan keterampilan tangan. Pada kenyataannya, gerakan tangan yang berulang dapat berkurang. Meskipun kematian mendadak dalam tidur dapat terjadi, sebagian besar orang dengan sindrom Rett hidup sampai mereka berusia 40 sampai 50-an. Mereka biasanya membutuhkan perawatan dan bantuan sepanjang hidup.

Perawatan
Pengobatan Sindrom Rett memerlukan pendekatan lintas disiplin, termasuk perawatan medis yang teratur; fisik, okupasi dan terapi wicara, dan akademis, sosial dan pelayanan kejuruan. Kebutuhan untuk tingkat perawatan dan dukungan tidak berakhir sebagai anak-anak menjadi lebih tua dan biasanya diperlukan sepanjang hidup.

Pengobatan yang dapat membantu anak-anak dan orang dewasa dengan Sindrom Rett meliputi:
* Obat-obatan
Meskipun obat tidak dapat menyembuhkan sindrom Rett, penderita terbantu untuk mengendaklikan gejala yang terkait dengan kelainan, seperti kejang-kejang dan kekakuan otot.

* Terapi Fisik dan Wicara
Terapi fisik dan penggunaan kawat gigi atau gips dapat membantu anak-anak yang menderita scoliosis. Dalam beberapa kasus, terapi fisik juga dapat membantu mempertahankan berjalan, keseimbangan dan fleksibilitas, sementara terapi okupasi dapat memperbaiki penggunaan tangan. Terapi wicara dapat membantu meningkatkan kehidupan anak dengan mengajarkan cara-cara berkomunikasi nonverbal.

* Dukungan Gizi
Gizi yang tepat sangat penting bagi pertumbuhan normal dan untuk meningkatkan fungsi mental dan sosial. Beberapa anak dengan Sindrom Rett dapat “membutuhkan” lemak tinggi dan makanan berkalori tinggi. Dukungan gizi juga diberikan melalui hidung (selang nasogastrik) atau langsung di perut.

Sumber: medlineplus dan mayoclinic.

Leave a comment »

Oxytocin Membantu Autisme

OXYTOCIN atau yang dikenal juga dengan hormon cinta, bisa membantu mengembangkan keterampilan  dan perilaku sosial penderita autisme pada level high-functioning.

High-functioning autism merupakan istilah informal yang merujuk pada orang-orang autis yang dianggap memiliki fungsi yang lebih tinggi di bidang tertentu dibandingkan penderita autisme pada umumnya.

Sebuah studi baru menunjukkan bahwa orang-orang dengan gangguan high-functioning autism, seperti Asperger’s syndrome, yang ditangani dengan oxytocin merespon lebih kuat terhadap orang lain dan menunjukkan lebih banyak perilaku sosial yang tepat.

Meskipun mempunyai kemampuan intelektual yang tinggi, orang-orang dengan high-functioning autism kurang keahlian sosial untuk bergaul secara tepat dengan orang lain di dalam masyarakat.

Oxytocin dinamakan hormon cinta karena dikenal menguatkan hubungan antara ibu dan bayi. Hormon ini juga diyakini terlibat dalam pengaturan emosi dan perilaku sosial lainnya. Penelitian lain telah menemukan bahwa anak-anak autis memiliki kadar oxytocin yang lebih rendah dibandingkan anak-anak tanpa autisme.

Dalam studi yang dipublikasikan di Proceedings of the National Academy of Sciences ini, peneliti memeriksa efek menghirup oxytocin terhadap perilaku sosial pada 13 orang dewasa muda dengan high-functioning autism dalam dua percobaan terpisah. Selain itu, peneliti juga melibatkan 13 partisipan tanpa autisme sebagai kelompok pembanding.

Pada percobaan pertama, peneliti mengamati perilaku sosial partisipan dalam ball-tossing game di komputer. Dalam game ini, pemain diminta memilih mengirim bola kepada karakter yang baik, buruk atau netral.

Pada umumnya, orang-orang dengan autisme tidak akan terlalu memperhatikan ketiga pilihan tersebut. Tapi dalam percobaan ini, mereka yang menghirup oxytocin lebih banyak terlibat dengan karakter baik dan mengirim lebih banyak bola kepada karakter yang baik dibandingkan yang jahat.

Partisipan dengan autisme yang diberikan placebo tidak menunjukkan perbedaan respon terhadap ketiga karakter. Sedang kelompok pembanding tanpa autisme mengirim lebih banyak bola kepada karakter yang baik.

Dalam percobaan kedua, peneliti mengukur tingkat perhatian dan respon partisipan terhadap gambar wajah manusia. Mereka yang ditangani dengan oxytocin lebih memperhatikan tanda-tanda visual di gambar dan melihat lebih lama pada area wajah yang berkaitan dengan informasi sosial, seperti mata.

“Di bawah pengaruh oxytocin, pasien merespon lebih kuat terhadap orang lain dan menunjukkan perilaku sosial yang lebih tepat. Hal ini menunjukkan potensi terapis oxytocin dalam menangani autisme,” terang peneliti Elissar Andari dari Centre Nátional de la Recherche Scientifique di Bron, Prancis, seperti dikutip situs webmd.com.

Peneliti menyatakan bahwa hasil studi ini mengindikasikan perlunya studi lanjutan untuk memeriksa efek oxytocin terhadap keterampilan dan perilaku sosial pada orang-orang dengan high-functioning autism. (IK/OL-5)

Sumber : http://www.mediaindonesia.com

http://www.autisinfo.com

Leave a comment »

Memanusiakan Penyandang Tuna Ganda

Dalam doa pagi, para siswa Sekolah Luar Biasa (SLB) Ganda Helen Keller Indonesia di Yogyakarta memohon kepada yang Kuasa agar mendapat berkat dalam menjalani hari. Setelah itu mereka sibuk dengan kegiatan masing-masing di kelas. Ada yang belajar mengetik, menulis, atau latihan psikomotorik. Itulah aktivitas sehari-hari di sekolah ini ketika SCTV mengunjungi sekolah tersebut, baru-baru ini.

Sejak 1938 silam, para biarawati putri Maria Yosef membina mereka yang lemah, miskin, serta tersingkir, terutama pendidikan penyandang cacat. Kini di Yogyakarta, mereka berkarya bagi para penyandang tuna ganda. “Kita ingin memanusiakan manusia itu,” kata Wahyu Triningsih, Kepala Yayasan Dena Upakara.

Memang tak mudah menanganinya. Dibutuhkan kesabaran khusus melatih dalam keterbatasan mereka. Apalagi, sebagian dari mereka terlambat disekolahkan. Meski begitu, keterbatasan bukan halangan untuk memperbaiki nasib para penyandang cacat. “Kemampuan mereka lebih besar dari manusia normal,” ucap Yovita Pratiwi, Wakil Kepsek SLB/G Helen Keller Yogyakarta.

Bahkan para suster yang didampingi sejumlah guru di SLB Helen Keller juga memberikan bekal untuk masa depan mereka, seperti  membuat telur asin. Tujuannya, agar mereka dapat berkarya di masyarakat setelah lulus nanti. Apapun kondisinya, Tuhan telah memberi talenta kepada mereka yang harus dikembangkan dan diberi kesempatan.(BOG)

Sumber  : Liputan 6.com

Leave a comment »

Seorang Anak Disgrafia

Via (9) mengalami kesulitan dalam menulis, setiap di sekolah ataupun di rumah bila mengerjakan tugas dari gurunya tulisannya buruk, bukan hanya itu, tetapi ia tidak dapat memegang pulpen atau pensil dengan mantap. Sering kali ibunya menyuruh dan mengajarinya agar memegang alat tulis dengan benar. Tetapi Via sangat sulit melakukan itu, pada saat menulis ia juga sering mencampur huruf besar dan kecil. Guru di sekolahnya pun juga selalu mengajarinya menulis yang benar,walau hanya disuruh menyalin tulisan yang ada di papan tulis, tetapi bagi Via sulit untuk melakukan itu. Lalu ibunya membawa Via ke seorang psikolog. Setelah mengalami beberapa tes, ia mengalami Disgrafia yaitu yaitu gangguan neurologis yang menghambat kemampuan menulis meliputi hambatan secara fisik. Karakteristiknya seperti kasus Via di atas, anak kesulitan dalam menulis walaupun hanya di suruh menyalin tulisan yang ada, sulit memegang pulpen dengan mantap dsb. Untuk orang tua yang mempunyai anak yang mengalami disgrafia tetaplah melatihnya, jangan berfikir kalau ia malas atau bodoh, ia hanya mengalami hambatan atau gangguan. Orang tua harus bisa membangun rasa percaya diri anak.

Leave a comment »

Membantu Anak Disgrafia

Ada beberapa hal yang bisa dilakukan orang tua untuk membantu anak dengan gangguan ini. Di antaranya:

1. Pahami keadaan anak

Sebaiknya pihak orang tua, guru, atau pendamping memahami kesulitan dan keterbatasan yang dimiliki anak disgrafia. Berusahalah untuk tidak membandingkan anak seperti itu dengan anak-anak lainnya. Sikap itu hanya akan membuat kedua belah pihak, baik orang tua/guru maupun anak merasa frustrasi dan stres. Jika memungkinkan, berikan tugas-tugas menulis yang singkat saja. Atau bisa juga orang tua
meminta kebijakan dari pihak sekolah untuk memberikan tes kepada anak dengan gangguan ini secara lisan, bukan tulisan.

2. Menyajikan tulisan cetak

Berikan kesempatan dan kemungkinan kepada anak disgrafia untuk belajar menuangkan ide dan konsepnya dengan menggunakan komputer atau mesin tik. Ajari dia untuk menggunakan alat-alat agar dapat mengatasi hambatannya. Dengan menggunakan komputer, anak bisa memanfaatkan sarana korektor ejaan agar ia mengetahui kesalahannya.

3. Membangun rasa percaya diri anak

Berikan pujian wajar pada setiap usaha yang dilakukan anak. Jangan sekali-kali menyepelekan atau melecehkan karena hal itu akan membuatnya merasa rendah diri dan frustrasi. Kesabaran orang tua dan guru akan membuat anak tenang dan sabar terhadap dirinya dan terhadap usaha yang sedang dilakukannya.

4. Latih anak untuk terus menulis

Libatkan anak secara bertahap, pilih strategi yang sesuai dengan tingkat kesulitannya untuk mengerjakan tugas menulis. Berikan tugas yang menarik dan memang diminatinya, seperti menulis surat untuk teman, menulis pada selembar kartu pos, menulis pesan untuk orang tua, dan sebagainya. Hal ini akan meningkatkan kemampuan menulis anak disgrafia dan membantunya menuangkan konsep abstrak tentang huruf dan kata dalam bentuk tulisan konkret.

http://www.mail-archive.com

Leave a comment »

Anak Kesulitan Belajar

Arsala, siswa Kelas III SD Muhammadiyah Condong Catur, bersama dengan 34 siswa SD lain, Sabtu (14/5) pagi, tampak asyik mengerjakan 60 soal Standard Progressive Matrices, di Laboratorium Pendidikan Luar Biasa, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Yogyakarta.

Setelah lebih kurang satu jam mengerjakan, dia lalu menyerahkan kertas jawabannya. “Soalnya tadi gampang, tidak terlalu sulit. Saya mengerjakan semua soal,” ujar Arsala yang datang diantar gurunya pagi itu.

Standard Progressive Matrices (SPM) merupakan satu tes inteligensi bagi anak-anak usia 7-12 tahun yang mengalami kesulitan belajar spesifik. SPM ini diteskan pada siswa Kelas II dan III SD, sedangkan untuk siswa Kelas I, diberikan tes Coloured Progressive Matrices (CPM).

Anak berkesulitan belajar spesifik adalah anak yang mengalami kesulitan belajar karena ada gangguan persepsi. Mereka sebenarnya memiliki tingkat inteligensi cukup baik, namun prestasi belajarnya kurang.

Pemeriksaan psikologis ini ditujukan bagi siswa-siswi SD yang dianggap mengalami kesulitan belajar di kelas. Tin Suharmini MSi, Ketua Laboratorium Pendidikan Luar Biasa (PLB) Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) mengatakan, setelah tes itu, lalu dianalisis dan dilanjutkan dengan tes Weisler Intelligence Skill Children (WISC), tes kecerdasan verbal dan performance, untuk mendeteksi apakah mereka mengalami gangguan persepsi atau tidak.

Ada tiga bentuk kesulitan belajar anak, yakni kesulitan di bidang matematika atau berhitung (diskalkulia), kesulitan membaca (disleksia), kesulitan berbahasa (disphasia), dan kesulitan menulis (disgraphia). Mereka juga kesulitan orientasi ruang dan arah, misalnya sulit membedakan kiri-kanan, atas-bawah.

Tanda-tanda disleksia adalah

–  Tidak lancar atau ragu-ragu dalam membaca

–  Membaca tanpa irama (monoton), dan kesulitan mengeja.

Tanda-tanda disgraphia, misalnya :

-Tulisan sangat jelek, terbalik-balik

-Sering menghilangkan atau malah menambah huruf.

Sedangkan, tanda-tanda diskalkulia adalah  kesulitan memahami  simbol  matematika.

“Misalnya tanda tambah (+) dilihat sebagai tanda kali (x). Atau, ketika ditanya berapa hasil kali lima dengan lima. Meskipun mereka menjawab benar, yakni 25, tetapi dalam menuliskannya salah. Bukan angka 25 yang ditulis, tetapi 52,”

Dosen PLB UNY lain, Heri Purwanto memaparkan, ada dua bentuk penanganan utama bagi mereka. Pertama, yakni klinik, bila kesulitan belajar mereka disebabkan faktor internal yang lebih banyak bersifat neurologis. Kedua, pengajaran remidial, jika kesulitan belajar mereka disebabkan faktor eksternal dan pasca penanganan klinik.  Peran orangtua dan guru sangat menentukan. Tin menyebut, hampir 90 persen guru dan orangtua belum mengetahui siswa dan anaknya mengalami kesulitan belajar. SD yang khusus bagi mereka belum ada.

Sumber   : http://www.mail-archive.com/psikologi_net

Leave a comment »