Penempatan Anak Tunarungu di Kelas Inklusi

Sebelum melakukan penempatan anak berkebutuhan khusus di dalam kelas inklusi, sebaiknya dilakukan identifikasi dan asesmen terlebih dahulu. Identifikasi merupakan tahapan awal yang masih bersifat global/kasar, identifikasi diartikan sebagai proses penyaringan anak berkebutuhan khusus yang mengalami penyimpangan, kelainan, hambatan baik secara fisik, intelektual, sosial, emosional dan tingkah laku dalam rangka pemberian layanan pendidikan yang sesuai.

Hasil dari identifikasi adalah ditemukannya anak-anak berkebutuhan khusus yang memerlukan layanan pendidikan khusus melalui program pendidikan inklusi. Selanjutnya jika sudah diidentifikasi lalu ditemukan anak tunarungu dengan derajat ketulian misalnya 90 dB, barulah dilanjutkan dengan asesmen.

Dengan asesmen akan diketahui kelemahan/kesulitan anak dalam hal tertentu, serta diketahui pula kekuatan/potensi/kemampuan yang masih dapat dikembangkan juga kebutuhan layanan khusus yang diperlukan untuk mengatasi hambatan yang dimiliki anak. Setelah dilakukan asesmen dan diketahui kelebihan serta kelemahan anak, barulah guru dapat menempatkan anak tunarungu berdasarkan kemampuan bahasa yang dimilikinya, selain itu dengan hasil asesmen guru dapat membuat program pembelajaran yang sesuai dengan potensi yang dimiliki anak. Dengan program tersebut diharapkan pembelajaran yang dilakukan anak tunarungu dapat bermakna.

Setelah dilakukan asesmen barulah dilakukan penempatan dengan program pembelajaran individual (PPI).Penempatan anak tunarungu di sekolah inklusi di Indonesia pada dasarnya lebih sama dengan model mainstreaming seperti pendapat Vaughn,Bos & Schumn (2000),yaitu:

  1. Kelas regular (inklusi penuh)

Anak tunarungu belajar bersama dengan anak mendengar sepanjang hari di kelas regular dengan menggunakan kkurikulum yang sama.

  1. Kelas regular dengan cluster

Anak tunarungu belajar bersama dengan anak mendengar di kelas regular dengan kelompok khusus.

  1. Kelas regular dengan pull out

Anak tunarungu belajar bersama anak mendengar di kelas regular namun dalam waktu-waktu tertentu anak tunarungu ditarik dari kelas regular ke ruang sumber untuk belajar dengan guru pembimbing khusus.

  1. Kelas regular dengan cluster dan pull out

Anak tunarungu belajar bersama dengan anak mendengar di kelas regular dalam kelompok khusus, dan dalam waktu-waktu tertentu ditarik dari kelas regular untuk belajar dengan guru pembimbing khusus.

  1. Kelas khusus dengan berbagai pengintegrasian

Anak tunarungu di dalam kelas khusus pada sekolah regular, namun dalam bidang-bidang tertentu dapat belajar bersama dengan anak mendengar di kelas regular.

  1. Kelas khusus penuh

Anak tunarungu belajar di dalam kelas khusus pada sekolah regular.

Anak tunarungu di kelas inklusi hendaknya duduk dalam posisi tidak terhalang pandangannya untuk melihat mulut guru saat menjelaskan, sehingga prinsip keterarahwajahan dan keterarahsuaraan dapat dilakukan. Guru dalam memberi penjelasan tidak harus bersuara keras, yang paling penting adalah ujaran yang keluar dari mulut guru dapat jelas dan mudah ditangkap oleh anak tunarungu.

sumber  : bintangbangsaku.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: