Archive for April, 2010

Individu Tuna Grahita

Mendengar keterangan soal anaknya Chahyo Estiadi Budi Syahputro dari tetangga yang mengunjunginya, napas Ibu Esti seakan tertahan. Radang usus yang sudah tak dipikirkannya lagi membuatnya mengerang perih. Tak terasa sudah hampir 2 bulan ia terbaring di rumah sakit. Namun ia tidak bisa berbuat banyak untuk anaknya.
“Chahyo hampir setiap hari jatuh dari tempat tidur sejak ibu dirawat,” kata tetangga itu sebagaimana dikenang Esti.
Esti, ibu Chahyo, dirawat  selama 2 bulan di rumah sakit karena radang usus. Sepanjang waktu itu, Chahyo yang dijaga oleh pengasuh hampir setiap hari jatuh dari tempat tidur. Umur Chahyo, yang lahir di Jakarta 17 November 1987, saat itu berumur 1,5 tahun.

Koma 3 Hari
“Saya tidak melihat ada perubahan dalam diri Chahyo sejak dari terakhir ia jatuh. Namun 6 bulan kemudian mulai kelihatan sebenarnya apa yang terjadi pada anak saya,” tutur Esti yang tinggal di Kecamatan Keramat Jati ini. Esti mengenang, pada 23 Desember, saat mentari beranjak mendekati titik puncak, tiba-tiba Chahyo kejang-kejang di dalam bus. Saat itu mereka dalam perjalanan ke Gelael untuk belanja setelah Esti mendapatkan voucher.

Seketika itu juga anak malang tersebut di antar ke Rumah Sakit Universitas Kristen Indonesia, Jakarta Timur. Chahyo langsung koma selama 3 hari. Selama perawatan 2 bulan Chahyo sempat diambil cairan sumsum tulang belakangnya untuk diperiksa. Menurut dokter, Chahyo mengalami radang otak yang diakibatkan benturan kepala Chahyo ke lantai, saat jatuh dari tempat tidur. Dan itu terjadi hampir setiap hari selama 2 bulan.

Lepas dari masa kritis, perkembangan Chahyo mulai terlihat berbeda dengan anak-anak seusianya. Chahyo mengalami kelumpuhan sementara, sehingga baru pada umur 2,5 tahun ia bisa berjalan. Sebelumnya, ia selalu menyeret kakinya jika berjalan. Selain itu, Chahyo juga cadel ketika berbicara dan sulit menangkap jika diajak berkomunikasi.

Sekalipun demikian Chahyo yang dikenal periang dan ramah ini tetap menapaki jalur akademis. 2 tahun dihabiskannya di TK Respatih Keramat Jati. Lalu ia melanjutkan ke SD 010 di Batu Ampar, tetapi hanya sampai kelas 2 SD. Maklumlah Intelligence Quotient-nya (IQ) hanya 70. “Anak saya tidak bisa mengikuti pelajaran. Oleh karena itu saya pindahkan dia ke SLB (Sekolah Luar Biasa) Budi Daya Cijantung,” kata Esti.

Menurut psikolog, IQ di bawah 70 membuat seseorang lamban dalam berpikir dan belajar serta mengalami kesulitan dalam berbicara. Kepada mereka ini tidak lagi dikatakan mental retardation (cacat mental) karena dinilai akan semakin merendahkannya, tetapi mereka memiliki keterbatasan intelektual atau intellectual disabilities.

Raih Emas
Di SLB, Chahyo seakan menemukan habitatnya yang kondusif. Di antara teman-teman SLB, Chahyo menjadi idola terutama di kalangan kaum hawa. “Iya benar…saya menjadi idola dan banyak ceweknya,” kata Chahyo membenarkan sambil tersipu malu.

“Sampai-sampai ada beberapa cewek yang mengidolakan Chahyo mentransfer pulsa untuknya,” kata Esti bangga.

Kharisma yang terpancar dari Chahyo itu semakin nyata ketika dia menunjukkan kemampuannya dalam bidang olah raga, khususnya tenis meja. Catatan prestasi Chahyo dalam bidang ini terus terukir, di antaranya juara I tenis meja perseorangan pada Pekan Olah Raga Tunagrahita Nasional tahun 2006 dan juara III dalam Pekan Olah Raga Tunagrahita Daerah DKI setahun kemudian.

Chahyo yang mulai direkrut Special Olympics Indonesia (SOIna) sejak kelas 5 SD dinyatakan lulus seleksi oleh untuk mengikuti lomba snowshoeing (lari di atas salju) dalam rangka olimpiade musim dingin tunagrahita internasional 2009 di Idaho Amerika Serikat yang berlangsung pada 7-13 Februari 2009. Olimpiade yang mempertandingkan 7 cabang ini diikuti kira-kira 2.500 atlet tunagrahita dari lebih 100 negara. SOIna sendiri mengirimkan 3 altet yang satu di antaranya adalah Chahyo.

Pada pertandingan tersebut Chahyo mendapatkan emas untuk nomor 100 m dan perunggu nomor 200 m.

sumber   : republika

Leave a comment »

Anak Luar Biasa Butuh Perhatian Lebih

Semua anak, baik normal maupun tuna (berkelainan) memiliki kesempatan sama didalam hal pendidikan dan pengajaran. Namun harus diakui bahwa anak yang mengalami ketunaan memiliki berbagai hambatan dan kelainan dalam kondisi fisik dan psikisnya sehingga mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan perilaku dan kehidupannya.
Anak luar biasa diasumsikan berkaitan dengan kondisi jasmani maupun rohani yang berkelainan dibanding anak normal. Oleh karena itu anak digolongkan luar biasa
apabila anak itu tidak masuk pada kategori sebagai anak normal baik fisik, mental
maupun intelegensianya.
Permasalahan mendasar bagi anak-anak luar biasa, biasanya ditunjukkan dengan perilakunya ketika melakukan aktivitas bersama dengan anak-anak normal pada umumnya. Contoh, ketika bergaul mereka menghadapi sejumlah kesulitan baik dalam kegiatan fisik, psikologis maupun sosial.
Ditinjau dari aspek psikologis anak tuna daksa memang cenderung merasa apatis, malu, rendah diri, sensitif dan kadang-kadang pula muncul sikap egois terhadap lingkungannya. Keadaan seperti ini mempengaruhi kemampuan dalam hal sosialisasi dan interaksi sosial terhadap lingkungan sekitarnya atau dalam pergaulan sehari-harinya.
Keluarbiasaan jenis apapun yang disandang anak tuna merupakan pengalaman personal. Ini berarti siapapun yang berada diluar dirinya tidak akan merasakan tanpa ia mengerti, memahami dan mengalaminya. Anak atau siswa tuna daksa yang satu dengan yang lain belum tentu sama apa yang dipikirkannya. Jadi meskipun sama-sama mengalami ketunaan, belum tentu apa yang dirasakan seseorang sama dengan yang dirasakan anak tuna-tuna lainnya.
Dengan adanya keluarbiasaan dalam diri seseorang sering eksistensinya sebagai
makhluk sosial dapat saja terganggu. Sebagai akibat dari ketunaan dan pengalaman
pribadi anak itu maka efek psikologis yang ditimbulkannya juga tergantung dari
seberapa berat ketunaan yang disandangnya itu, kapan saat terjadinya kecacatan,
seberapa besar kualitas kecacatan dan karakteristik susunan kejiwaan anak atau siswa
tersebut sangat mempengaruhi kondisi psikologisnya
Dari beberapa kajian yang telah dilakukan terhadap isolasi sosial anak, menunjukkan anak sering menjadi kaku, mudah marah dan bila dihubungkan dengan perilakunya menunjukkan seakan bukan pemaaf dan tidak mempunyai rasa sensitif terhadap orang lain. Hal lain menunjukkan bahwa anak-anak seperti itu mempunyai kesulitan mendasar dalam hal sosialisasi dan bahkan komunikasi.
Sifat-sifat seperti itu merupakan rintangan utama dalam melakukan kepuasan hubungan interpersonal bagi anak-anak luar biasa. Ketersendirian sebagai akibat rasa rendah diri merupakan tantangan dalam melakukan sosialisasi dan penerimaan diri akan
kelainan yang dimilikinya.

Butuh bimbingan konseling
Anak-anak tuna daksa sebenarnya tidak selamanya memiliki keterbelakangan mental. Ada yang mempunyai kemampuan daya pikir lebih tinggi dibandingkan anak normal. Bahkan tidak jarang kelainan yang dialami seorang anak tuna daksa tidak mempengaruhi perkembangan jiwa dan pertumbuhan fisik serta kepribadiannya. Demikian pula ada diantara anak tuna daksa hanya mengalami sedikit hambatan sehingga mereka dapat mengikuti pendidikan sebagaimana anak normal lainnya.
Secara umum perbedaan antara anak tuna daksa dengan anak normal terutama terdapat dalam tingkat kemampuannya. Namun hal ini juga sangat tergantung dari berat
ringannya ketunaan yang mereka sandang.
Dengan adanya ketunaan dalam diri seseorang seringkali eksistensinya sebagai manusia terganggu. Sebagai akibat dari ketunaan dan pengalaman pribadi anak maka
dibutuhkan keterampilam sesuai dengan kemampuan dirinya. Oleh karena itu orang-orang yang terlibat didalam pendidikan bagi anak luar biasa harus mempunyai keterampilan dalam mengungkapkan kebutuhan-kebutuhan personal psikologis yang dibutuhkan anak luar biasa. Layanan bimbingan dan konseling sangat diperlukan bagi anak luar biasa.
Bimbingan dan konseling adalah suatu proses pemberian bantuan kepada seseorang dan atau sekelompok orang yang bertujuan agar masing-masing individu mampu mengembangkan dirinya secara optimal, sehingga dapat mandiri dan atau mengambil keputusan secara bertanggungjawab. Jadi yang ingin dicapai dengan bimbingan ialah tingkat perkembangan yang optimal bagi setiap individu sesuai dengan kemampuannya.
Hal tersebut merupakan tujuan utama pelayanan bimbingan di sekolah, dan tujuan tersebut terutama tertuju bagi murid-murid sebagai individu yang diberi bantuan. Akan tetapi sebenarnya tujuan bimbingan di sekolah tidak terbatas bagi murid saja, melainkan juga bagi sekolah secara keseluruhan dan bagi masyarakat.
Dengan demikian hakekat tujuan bimbingan dan konseling yaitu suatu upaya bantuan kepada individu agar dapat menerima dan menemukakan dirinya sendiri secara efektif dan produktif, sehingga dapat mengerahkan kemampuan dirinya dengan tepat, mengambil keputusan dengan benar dan dapat menyesuaikan dengan lingkungannya.
Oleh karena itu sudah saatnya dalam rangka menyongsong berlakunya Undang Undang Nomor : 14 Tahun 2006, tentang Guru dan Dosen maka Pemerintah perlu mengambil langkah-langkah kongkrit dengan mengangkat atau menetapkan profesi dan sertifikasi guru layanan bimbingan dan konseling pada sekolah-sekolah luar biasa, sehingga perhatian terhadap anak luar biasa menjadi tidak terabaikan dan sekaligus menepis issue diskriminasi terhadap anak didik.

Sumber   : http://www.gemari.or.id

Leave a comment »

Kebutaan Bukan Menjadi Hambatan

Tuna Netra (buta) adalah seseorang yang memiliki hambatan dalam penglihatan. Tuna netra dapat digolongkan ke dalam 2 golongan yaitu : buta total (blind) dan low vision.

Bagi sebagian individu yang mengalami tuna netra, kebutaan bukan hambatannya untuk mencapai prestasi. Seperti pada seorang siswa di salah satu SLB di Jakarta bernama Bayu. Ia termasuk penyandang tuna netra tetapi dibalik keterbatasan fisiknya ia mempunyai kelebihan yaitu melukis. metode pengajaran di sekolahnya menggunakan tulisan Braille, gambar timbul, benda model. Ia seringkali menjuarai beberapa lomba melukis tingkat DKI. Selain itu, ia sudah mengumpulkan banyak sekali lukisannya, ada beberapa lukisan yang sudah terjual.

Bayupun masih ingin terus berkarya, ia ingin memanfaatkan masa mudanya dengan sesuatu yang berharga dan dapat menyenangkan kedua orangtuanya.

Ia tidak menyesali keadaan fisiknya seperti ini, ia bersyukur karena tuhan memberikan kelebihan dan anugrah kepadanya. “ saya sangat bersyukur walaupun keadaan saya seperti ini, tuhan masih sayang sama saya “, ujarnya.

Leave a comment »

Penempatan Anak Tunarungu di Kelas Inklusi

Sebelum melakukan penempatan anak berkebutuhan khusus di dalam kelas inklusi, sebaiknya dilakukan identifikasi dan asesmen terlebih dahulu. Identifikasi merupakan tahapan awal yang masih bersifat global/kasar, identifikasi diartikan sebagai proses penyaringan anak berkebutuhan khusus yang mengalami penyimpangan, kelainan, hambatan baik secara fisik, intelektual, sosial, emosional dan tingkah laku dalam rangka pemberian layanan pendidikan yang sesuai.

Hasil dari identifikasi adalah ditemukannya anak-anak berkebutuhan khusus yang memerlukan layanan pendidikan khusus melalui program pendidikan inklusi. Selanjutnya jika sudah diidentifikasi lalu ditemukan anak tunarungu dengan derajat ketulian misalnya 90 dB, barulah dilanjutkan dengan asesmen.

Dengan asesmen akan diketahui kelemahan/kesulitan anak dalam hal tertentu, serta diketahui pula kekuatan/potensi/kemampuan yang masih dapat dikembangkan juga kebutuhan layanan khusus yang diperlukan untuk mengatasi hambatan yang dimiliki anak. Setelah dilakukan asesmen dan diketahui kelebihan serta kelemahan anak, barulah guru dapat menempatkan anak tunarungu berdasarkan kemampuan bahasa yang dimilikinya, selain itu dengan hasil asesmen guru dapat membuat program pembelajaran yang sesuai dengan potensi yang dimiliki anak. Dengan program tersebut diharapkan pembelajaran yang dilakukan anak tunarungu dapat bermakna.

Setelah dilakukan asesmen barulah dilakukan penempatan dengan program pembelajaran individual (PPI).Penempatan anak tunarungu di sekolah inklusi di Indonesia pada dasarnya lebih sama dengan model mainstreaming seperti pendapat Vaughn,Bos & Schumn (2000),yaitu:

  1. Kelas regular (inklusi penuh)

Anak tunarungu belajar bersama dengan anak mendengar sepanjang hari di kelas regular dengan menggunakan kkurikulum yang sama.

  1. Kelas regular dengan cluster

Anak tunarungu belajar bersama dengan anak mendengar di kelas regular dengan kelompok khusus.

  1. Kelas regular dengan pull out

Anak tunarungu belajar bersama anak mendengar di kelas regular namun dalam waktu-waktu tertentu anak tunarungu ditarik dari kelas regular ke ruang sumber untuk belajar dengan guru pembimbing khusus.

  1. Kelas regular dengan cluster dan pull out

Anak tunarungu belajar bersama dengan anak mendengar di kelas regular dalam kelompok khusus, dan dalam waktu-waktu tertentu ditarik dari kelas regular untuk belajar dengan guru pembimbing khusus.

  1. Kelas khusus dengan berbagai pengintegrasian

Anak tunarungu di dalam kelas khusus pada sekolah regular, namun dalam bidang-bidang tertentu dapat belajar bersama dengan anak mendengar di kelas regular.

  1. Kelas khusus penuh

Anak tunarungu belajar di dalam kelas khusus pada sekolah regular.

Anak tunarungu di kelas inklusi hendaknya duduk dalam posisi tidak terhalang pandangannya untuk melihat mulut guru saat menjelaskan, sehingga prinsip keterarahwajahan dan keterarahsuaraan dapat dilakukan. Guru dalam memberi penjelasan tidak harus bersuara keras, yang paling penting adalah ujaran yang keluar dari mulut guru dapat jelas dan mudah ditangkap oleh anak tunarungu.

sumber  : bintangbangsaku.com

Leave a comment »

Anak Tuna Ganda

Di Indonesia, pravelensi penyandang tuna ganda hampir mencapai 100.000 orang. Tuna ganda adalah anak yang mengalami kombinasi kelainan baik dua jenis kelainan atau lebih, sehingga anak tersebut tidak bisa diatasi dengan suatu program pendidikan khusus untuk satu kelainan saja.

Seperti contoh berikut, sebut saja Budi, ia mengalami tuna netra (buta) sejak kecil. Lalu saat ia masuk masa sekolah ia juga mengalami keterlambatan dalam menerima pelajaran. Ia lambat dalam berfikir dan juga susah untuk melakukan kontak sosial dengan orang sekitar. Sudah berkali – kali diajarkan oleh gurunya ia tetap sulit menerima pelajarannya.

Setelah di tes IQnya, berkisar 39 %. Contoh kasus tersebut adalah penyandang tuna ganda yaitu gabungan tuna grahita dan tuna netra.

MACAM-MACAM TUNA GANDA

  • Tunanetra-tunawicara
  • Tunanetra-tunarungu
  • Tunanetra-tunadaksa
  • Tunanetra-tunagrahita
  • Tunanetra-tunalaras
  • Tunanetra-kesulitan belajar khusus

Leave a comment »

Memanusiakan Penyandang Tuna Ganda

Dalam doa pagi, para siswa Sekolah Luar Biasa (SLB) Ganda Helen Keller Indonesia di Yogyakarta memohon kepada yang Kuasa agar mendapat berkat dalam menjalani hari. Setelah itu mereka sibuk dengan kegiatan masing-masing di kelas. Ada yang belajar mengetik, menulis, atau latihan psikomotorik. Itulah aktivitas sehari-hari di sekolah ini ketika SCTV mengunjungi sekolah tersebut, baru-baru ini.

Sejak 1938 silam, para biarawati putri Maria Yosef membina mereka yang lemah, miskin, serta tersingkir, terutama pendidikan penyandang cacat. Kini di Yogyakarta, mereka berkarya bagi para penyandang tuna ganda. “Kita ingin memanusiakan manusia itu,” kata Wahyu Triningsih, Kepala Yayasan Dena Upakara.

Memang tak mudah menanganinya. Dibutuhkan kesabaran khusus melatih dalam keterbatasan mereka. Apalagi, sebagian dari mereka terlambat disekolahkan. Meski begitu, keterbatasan bukan halangan untuk memperbaiki nasib para penyandang cacat. “Kemampuan mereka lebih besar dari manusia normal,” ucap Yovita Pratiwi, Wakil Kepsek SLB/G Helen Keller Yogyakarta.

Bahkan para suster yang didampingi sejumlah guru di SLB Helen Keller juga memberikan bekal untuk masa depan mereka, seperti  membuat telur asin. Tujuannya, agar mereka dapat berkarya di masyarakat setelah lulus nanti. Apapun kondisinya, Tuhan telah memberi talenta kepada mereka yang harus dikembangkan dan diberi kesempatan.(BOG)

Sumber  : Liputan 6.com

Leave a comment »

Seorang Anak Disgrafia

Via (9) mengalami kesulitan dalam menulis, setiap di sekolah ataupun di rumah bila mengerjakan tugas dari gurunya tulisannya buruk, bukan hanya itu, tetapi ia tidak dapat memegang pulpen atau pensil dengan mantap. Sering kali ibunya menyuruh dan mengajarinya agar memegang alat tulis dengan benar. Tetapi Via sangat sulit melakukan itu, pada saat menulis ia juga sering mencampur huruf besar dan kecil. Guru di sekolahnya pun juga selalu mengajarinya menulis yang benar,walau hanya disuruh menyalin tulisan yang ada di papan tulis, tetapi bagi Via sulit untuk melakukan itu. Lalu ibunya membawa Via ke seorang psikolog. Setelah mengalami beberapa tes, ia mengalami Disgrafia yaitu yaitu gangguan neurologis yang menghambat kemampuan menulis meliputi hambatan secara fisik. Karakteristiknya seperti kasus Via di atas, anak kesulitan dalam menulis walaupun hanya di suruh menyalin tulisan yang ada, sulit memegang pulpen dengan mantap dsb. Untuk orang tua yang mempunyai anak yang mengalami disgrafia tetaplah melatihnya, jangan berfikir kalau ia malas atau bodoh, ia hanya mengalami hambatan atau gangguan. Orang tua harus bisa membangun rasa percaya diri anak.

Leave a comment »